Tampilkan postingan dengan label KEMAHASISWAAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KEMAHASISWAAN. Tampilkan semua postingan

Rabu, 28 September 2011

PENGUMUMAN

Daftar nama-nama peserta yang melulusi tahap screening LKTM 2011 BEM Perikanan Universitas Hasanuddin :

No.
Nama
BEM/SEMA Fakultas
1.
Afifah Fadhilah Tamrin
Ekonomi
2.
Ahmad Janwar
Kehutanan
3.
Sulkifli
Perikanan
4.
Alif Nugraha
Pertanian
5.
Akmal Iksan
Ekonomi
6.
Miftah Farid. A
Kedokteran
7.
Pratiwi Bunga Pute
Ekonomi
8.
Dadang Anugrah
Kehutanan
9.
Alpiani
Perikanan
10.
Dafid Indrayanto
Peternakan
11.
M. Zarr Alghifari
Ekonomi
12.
Nur Rezki Amilia
Kedokteran Gigi
13.
Ardianty Abbas
Kehutanan
14.
Al Imran Juritno Jamal
Perikanan
15.
Nurul Amalina
Ekonomi
16.
Muh. Ihsan Basam
Perikanan
17.
Rahmah Dzulhajjah
Kehutanan
18.
Nur Hidayah
Ekonomi
19.
Saddam Husain
Peternakan
20.
Muh. Nur Rijal
Perikanan
21.
Kasyful Anwar
Perikanan
22.
Suci Ayu Lestari
Ekonomi
23.
Indar Wijaya
Perikanan
24.
Rizda Pratiwi
Ekonomi
25.
Fitriani Ahmad
Kedokteran Gigi
26.
Ade Ikhlas Amal Alam
Ekonomi
27.
Khaerul
Perikanan
28.
Sri Novi Hardianti
Ekonomi
29.
M. Kamil Nur
Kedokteran Gigi
30.
Rizky Yudha Wirawan
Ekonomi
31.
M. Fadel Faisal
Kedokteran Gigi
32.
Rahmawati
Ekonomi
33.
Eko Wahyudi Basri
Peternakan
34.
Firman Zainal
Peternakan
35.


















































Technical Meeting : Pukul 20.00 Hari Kamis, 29 September 2011

Minggu, 05 Juni 2011

Selamat datang SARDINELLA #10

Setelah melewati 3 (tiga) rangkaian prosesi pengkaderan; AROWANA, CME, dan Diklat Keprofesian, 28 Mei 2011 tepatnya hari Sabtu, Keluarga Mahasiswa Perikanan Universitas Hasanuddin, menghelat Inaugurasi di baruga A.P. Pettarani Universitas Hasanuddin untuk mengukuhkan 105 dari 149 mahasiswa baru menjadi anggota keluarga.

"Mati Satu Tumbuh Seribu", kurang lebih begitu isi sebuah pepatah yang seakan mengingatkan kita bahwa setiap waktu dan ruang senantiasa akan lahir generasi muda yang akan "menunaikan" tugas, menggantikan peran generasi tua. Hal ini tentunya menjadi keniscayaan; sebuah kepastian terhadap gerak waktu menuju sesuatu yang kita sebut sebagai keteraturan sosial.

Saat falsafah pengetahuan tidak lagi termaknai untuk memanusiakan manusia melainkan menjadi paradigma perbaikan nasib. Degradasi moralitas masyarakat kampus seolah jauh dari harapan masyarakat tentang lahirnya agen perubah, di tengah keterpurukan seperti ini yang tak kunjung mereda dan merangkak lebih maju akibat ke-apatis-an generasi sebelumnya, generasi muda pun dituntut untuk dapat mengambil peran sebagai bentuk kesadaran tanggungjawab sejarah. Diperlukan suatu usaha sistematis dengan melihat segala relevansi peran dan tanggung jawab mahasiswa dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Oleh karena itu generasi muda hadir untuk memberikan solusi dalam mengejawantahkan nilai peran dan tanggung jawab kader dalam mengemban dan meneruskan cita ”Terbinanya Insan Akademis Yang Bertakwa Kepada Tuhan Yang Maha Esa, Mandiri dan Berorientasi Kepada Wawasan Almamater Serta Bertanggung Jawab Atas Dimensi Kehidupan Berbangsa Dan Bernegara”.

Untuk teman-teman SARDINELLA #10; Kalian tidak mungkin mau menjadi KERBAU yang harus berada di kubangan yang sama setiap saat. Mari berbuat apa yang semestinya menjadi fitrah mahasiswa; sebagai orang yang tercerahkan, sebagai orang yang ber-pengetahuan, sebagai anggota Keluarga Mahasiswa Perikanan Universitas hasanuddin. MARI BERSAMA !!! SELAMAT DATANG DI KELUARGA MAHASISWA PERIKANAN; IMAN, ILMU, AMAL PADU MENGABDI DI BUMI PESISIR.

Kamis, 31 Maret 2011

Sebuah Entitas Gerakan Intelektual

Semua manusia adalah intelektual, namun tidak semua manusia menjalankan fungsi intelektualnya dalam masyarakat. (Antonio Gramsci, 1891-1937)

Mahasiswa baru memasuki dunia kampus dengan motivasi dan orientasi awal yang berbeda, ada yang menganggap kuliah sekadar prestise, ajang cari teman, menambah daya intelektualitas, dan –sebagian besar- sekadar sebagai tempat mendapatkan ijazah agar mudah mendapatkan pekerjaan. Salah satu orientasi mahasiswa adalah intelektualisme yang biasanya baru tersadari dan terbentuk ketika berinteraksi dengan segenap literatur ilmiah yang diramu dengan nalar kritis dan dibenturkan pada realitas. Hal tersebut merupakan penampakan nyata yang menghampiri setiap fenomena kampus hari ini. Pergeseran nilai pun terjadi dalam sebuah kelembagaan pendidikan formal yang menurutku adalah sandaran moralitas bagi masyarakat pada umumnya.

Orientasi yang relatif strategis dalam menjalankan posisi sebagai pioner perubahan di masyarakat ini mulai redup, tergadaikan, dan ditinggalkan. Aktivis mahasiswa banyak yang sekadar jago manajemen organisasi tapi minim kapasitas intelektual, dan sebaliknya banyak “intelektual” yang menahabiskan diri sebagai “intelektual bebas” merasa lebih nyaman bertengger dalam puncak-puncak intelektual yang tak membumi dan elitis. Terkondisikan oleh situasi yang mengikat sisi emosional mahasiswa. Kesadaran palsu muncul sebagai identitas perlawanan, walaupun dikemas dalam bentuk skenario kemanusiaan.

Seharusnya mahasiswa sebagai aktivis dalam arti luas dapat membumi dan memancarkan sisi intelektualitasnya untuk semua, tak hanya berguna untuk komunitasnya saja atau dalam kerangka idealitas tetapi lebih pada kerangka realitas yang ada. Aktivis yang bergerak pada ranah ini sebenarnya lebih mendekati apa yang disebut Antonio Gramsci (1891-1937) sebagai intelektual organik yang mampu mempertautkan teori dan praksis sebagaimana dituju oleh Mazhab Frakfurt agar lebih berguna bagi kehidupan dan memecahkan problem sosial.

George A. Theodorson & Achilles G. Theodorson (1979) mengatakan bahwa kaum intelektual adalah anggota masyarakat yang mengabdikan dirinya pada pengembangan ide-ide orisinal dan terikat dalam pencarian pemikiran-pemikiran kreatif. Dengan demikian terdapat karakteristik kaum intelektual, yaitu pada penggunaan intelek dan akal pikiran, bukan untuk hal-hal yang bersifat praktis, tapi lebih berorientasi pada pengembangan ide-ide (Azyumardi Azra, 2003). Hal itu memperkuat tesis bahwa kaum intelektual pada dasarnya bersifat progresif revolusioner, meskipun lebih diwujudkan dalam revolusi pemikiran bukan revolusi fisik. Hal inilah yang menjadikan intelektual sebagai berperilaku, bersikap, dan berkarakter kritis. Dan sebagai kritikus, kaum intelektual menyatakan pikiran dan kritiknya secara jelas dan bijak.

Sejatinya insan intelektual dengan beberapa kualifikasi seperti di atas bukanlah monopoli pendidikan formal, terutama perguruan tinggi. Bahkan banyak kaum intelektual lahir dari luar benteng menara gading kampus. Mereka mampu mengembangkan pemikiran sendiri hingga mencapai kemampuan pemikiran dan perilaku intelektual. Dengan adanya kerangka analisis kritis, mahasiswa pun wajib memiliki sebuah visi dan misi tentang agenda gerakan sosial. Hingga menjadi sebuah stimulan dalam evaluasi gerakan nilai.

Sebaliknya banyak jebolan perguruan tinggi yang lebih tepat digolongkan sebagai intelegensia daripada intelektual. Intelegensia menurut Gouldner (1979) adalah mereka yang minat intelektualnya secara fundamental bersifat teknis. Hal ini karena sebagai produk perguruan tinggi mereka telah menerima pendidikan yang membuat mereka mampu memegang pekerjaan sesuai dengan bidang dan profesi ilmunya (Bottomore, 1964).

Donald Wilhelm (1979) menambahkan, bahwa banyak tamatan perguruan tinggi mengalami kemandegan atau kehilangan kapasitas intelektualnya ketika mereka masuk ke dalam birokrasi dan rutinitas akademis di perguruan tinggi atau di manapun mereka bekerja. Perguruan tinggi yang diharapkan dapat berperan sebagai avant garde, inovator dan pembaharu masyarakat kemudian terjebak dalam mekanisme birokrasi dan spesialisasi atau profesinya di mana mereka terus menerus mengolah dan menghasilkan informasi serta pikiran dalam bidang mereka masing-masing yang relatif sempit.

Hal itu tentu bertentangan dengan kenyataan bahwa masalah yang dihadapi masyarakat sekarang tak dapat dipecahkan dengan pendekatan sempit semacam itu; pemecahan masalah sekarang membutuhkan pendekatan menyeluruh, interdisipliner dan berwawasan luas.

Perubahan yang terjadi terhadap sisi katakteristik merupakan langkah untuk menjawab kembali tantangan dari yang namanya entitas gerakan intelektual. Mahasiswa dalam hal ini harus lebih memahami secara parsial dan integral sehingga konsep sebuah gerakan terlihat secara holistik. Dari berbagai aspek kemasyarakatan inilah rumusan dari bentuk formulasi gerakan intelektual, mencoba berdiri di atas realitas kebenaran.

Pertanyaan menggelitik yang layak diajukan adalah, apakah kita termasuk intelektual atau sekadar intelegensia? Kita mahasiswa biasa atau luar biasa? Atau dalam perenungan yang lebih dalam lagi, “Selama hidup kita di kampus ini, kita akan menghargai waktu yang diberikan oleh Tuhan tersebut dengan karya apa?” Kita ingin menjadi mahasiswa yang seperti apa? Dan semuanya kembali pada diri kita sendiri untuk menjawab itu semua. Wallahu a’lam bishsawab. *Sebuah renungan bersama buat kawan-kawan

Oleh Irmal Dhal
(Mahasiswa Perikanan Unhas Angkatan 2003)